Mengenal Plombir Sepeda

Akhir-akhir ini, pesepeda sedang dibingungkan dengan isu adanya regulasi pajak sepeda oleh Kemenhub. Akan tetapi, kemenhub juga sudah menyangkal adanya regulasi pajak sepeda tersebut. Namun, tahukah kamu kalau di tahun 1970-1980an sepeda juga dikenakan pajak lho?

Pajak tersebut dinamakan sebagai peneng, tetapi pada beberapa daerah punya penyebutan yang berbeda salah satunya adalah ‘plombir.’ Kira-kira gimana ya plombir pada zaman dahulu? Daripada penasaran langsung saja yuk simak ulasannya berikut ini.

Apa itu Plombir?

Apa itu Plombir Sepeda
Sumber: bernasnews.com

Istilah plombir memang sama dengan istilah peneng yang sama-sama merujuk pada pajak sepeda. Hanya saja, istilah peneng lebih sering digunakan di kebanyakan kota di indonesia seperti di Jakarta, Surabaya dan lain-lain. Sementara itu, plombir umum digunakan di Yogyakarta dan Surakarta.

Plombir ini merupakan lempengan logam yang ditempelkan di bagian depan batangan sepada sebagai bukti telah membayar pajak sepeda tahunan. Istilah plombir ternyata juga bisa ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang mana artinya adalah materai dari timah yang dipakai sebagai tanda telah membayar pajak kendaraan. Seiring berjalannya waktu, lempengan tersebut pun berganti menjadi stiker.

Sejarah Plombir Sepeda

Sejarah Plombir Sepeda
Sumber: m.kaskus.co.id

Plombir, pada masa dulu telah lama berlaku di Yogyakarta terutama pada tahun 1970-1997. Penarikan plombir dilakukan di masing-masing kabupaten atau kota di setiap awal tahun, sekitar bulan Januari hingga Februari.

Plombir ini juga berlaku tahunan, sehingga tiap tahunnya tarif plombir akan berubah dan cenderung naik. Jumlah plombir yang harus dibayarkan per sepeda adalah sekitar Rp 25-50 pada tahun 1980-an. Tetapi, jumlah ini naik kembali dari Rp 100 sampai Rp 150.

Untuk warna plombir juga akan berbeda di setiap tahunnya, seperti biru dan hijau. Sistem penarikan dari plombir ini juga hampir berbarengan dengan pajak radio. Namun, memasuki tahun 1997, penarikan plombir sudah berkurang dan lama-lama tidak berlaku lagi.

Baca juga: Harga Sepeda Santa Cruz

Cegatan Plombir Sepeda di Masa lalu

Razia Plombir Sepeda di Masa Lalu
Sumber: motorplus-online.com

Faktanya, dulu warga juga sering menghindar dari adanya pembayaran plombir sepeda yang dilakukan oleh hansip atau petugas lainnya. Di Yogyakarta, kegiatan cegatan plombir biasanya dilakukan di tempat-tempat tertentu, terutama di perbatasan Jogja.

Contohnya di Krapyak, Jalan Parangtritis, dan Donkelan Jalan Bantul. Selain itu, di sebelah Timur Yogyakarta juga sering dilakukan razia di sekitar Gedong Kunng, Timoho, Jalan Menteri Supeno, Kolonel Sugiono. Sementara itu, jika razia dilakukan di tengah kota, umumnya dilakukan di Gondomanan.

Razia ini sebenarnya tidak dilakukan setiap hari, namun pada waktu tertentu di mana pesepeda cukup ramai melintasi jalanan. Selain itu, warga yang lebih sering terkena razia biasanya adalah kalangan anak muda. Saat dilakukan cegatan plombir, para petugas akan melakukan pemeriksaan pada sepeda untuk melihat apakah plombir sudah terpasang atau belum. Serta dilihat kira-kira itu plombir yang baru atau tahun lalu.

Jika plombir ternyata belum ada atau sudah tidak termasuk plombir yang terbaru, maka pesepeda akan dikenai biaya cegatan sesuai dengan jumlah yang ada di stiker plombir. Cegatan ini tentu saja membuat banyak sepeda yang selalu was-was sendiri saat akan melewati jalan-jalan yang sering jadi area cegatan. Terlebih kalau sepeda mereka ternyata belum punya plombir atau malah sudah kadaluarsa.

Baca juga: Mengenal Sepeda Land Rover

Menarik ‘kan pajak sepeda atau plombir sepeda ini pada masa dulu? Meskipun plombir ini sudah tidak ada lagi di masa kini, tetapi sempat ada isu yang cukup jadi obrolan banyak orang karena pajak sepeda akan diberlakukan lagi. Nah, gimana nih menurut kamu kalau plombir jadi diberlakukan lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *